Text
Supersemar Palsu : Kesaksian Tiga Jenderal
“Naskah asli Supersemar masih menjadi misteri”. Keraguan penulis akan keaslian naskah Supersemar berangkat dari beberapa kejanggalan yang mengiringi peristiwa tumpah darah yang terjadi pada 11 Maret 1966 silam. Buku Supersemar Palsu: Kesaksian Tiga Jenderal ini menjelaskan setidaknya ada tiga versi naskah Supersemar, yang dikeluarkan oleh institusi atau individu yang dianggap kompeten, yaitu Setneg dan pelaku sejarah itu sendiri.
Cerita yang terkandung dalam buku ini dimulai dari penguraian urutan peristiwa sebelum terjadinya peristiwa Supersemar. Yaitu ketika suasana mulai mencekam tatkala kepergian Soekarno dari Istana Negara menuju Istana Bogor. Padahal, suasana di ibu kota sudah tidak kondusif, menuntut Soekarno membubarkan PKI. Namun, atas keluarnya naskah Supersemar yang diserahkan Soekarno kepada Soeharto membuat Soeharto yang memimpin pembubaran tersebut. Namun, setelah pelaksanaannya, apa yang dilakukan oleh Soeharto dinilai tidak sejalan dengan surat perintah yang diberikan. Soekarno menilai Soeharto bertindak terlalu jauh. Salah satu tindakan Soeharto yang disayangkan adalah mengamankan belasan orang menteri dari suatu kabinet yang sedang berkuasa.
Supersemar Palsu: Kesaksian Tiga Jenderal yang ditulis oleh A. Pambudi menguraikan sebab-sebab keaslian naskah Supersemar dipertanyakan. Buku setebal 318 halaman tersebut dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Bagian Pertama: Tiga Versi Supersemar, Bagian Kedua: Kesaksian Tiga Jenderal, serta Bagian Ketiga: Pengambilan Kekuasaan Secara Perlahan. Tiap-tiap segmen dilengkapi dengan beberapa foto dokumentasi terkait. Buku tersebut ditulis dengan referensi-referensi yang jelas, hal tersebut ditunjukan dengan adanya sisipan petikan memoar dan wawancara terhadap beberapa pelaku sejarah terkait peristiwa Supersemar. Namun, beberapa tulisan di buku ini menunjukkan keterpihakan penulis ke suatu golongan.
Tidak tersedia versi lain